Kapolda Sulut Cek Pengamanan Rekapitulasi Suara di PPK Kotamobagu SelatanKapolda Sulut Pantau Situasi Rekapitulasi Suara di Bolmong SelatanKunjungi Mitra Pakai Heli, Kapolda Pantau Proses Rekapitulasi di PPKPenyidik Gakkumdu Serahkan Oknum Kades di Talaud yang Terlibat Kampanye ke JPUDiduga Asma Kambuh, Zebedeus Ditemukan Tewas di Perkebunan Manganitu SangiheJamin Keamanan, Polres Kepulauan Talaud Perketat Penjagaan Kantor KPUDKapolda Sulut Imbau Pendukung Calon Sabar Tunggu Hasil Resmi dari KPU dan Tidak KonvoiWakapolres Pantau Pengamanan Penghitungan Suara di PPK se-MinahasaPenerimaan Terpadu Anggota Polri T.A. 2019 Polda Sulut: Casis Tamtama Jalani Rikkes Tahap IPenerimaan Terpadu Anggota Polri T.A. 2019 Polda Sulut: 67 Catar Akpol Jalani Rikkes Tahap IKapolres Minsel Hadiri Upacara Pembukaan Pendidikan Bintara TNI ADPenerimaan Terpadu Anggota Polri T.A. 2019 Polda Sulut: 790 Casis Bintara Dinyatakan MS Rikkes Tahap IPenerimaan Terpadu Anggota Polri T.A. 2019 Polda Sulut: Casis Bintara Jalani Rikkes Tahap IJajaran Kepolisian di Talaud Lakukan Pengamanan Ujian Nasional SD dan SMPSambangi KPU Sulut, Kapolda Evaluasi Pengamanan Pasca Pemungutan Suara juga Bahas PSUKapolres Minut Pantau Pengamanan Penghitungan Suara Tingkat PPKPolisi Amankan 2 Pemuda Desa Tontalete karena Mabuk dan Buat KeributanPolisi Awasi UNBK Tingkat SMP/MTs di Wilayah Hukum Polres SangiheTim Kesehatan Polres Kepulauan Sangihe Berikan Vitamin Bagi Anggota Pengamanan di PPKPolisi Kawal USBN Tingkat SD dan UNBK SMP di Kota TomohonKejuaraan Bola Voli Kapolda Cup Siap Digelar di SulutIkuti & Saksikan.... Kejuaraan Bola Voli Antar Klub Memperebutkan Piala Kapolda SulutJamin Keamanan, Kapolresta Manado Tegaskan Perketat Pengamanan di PPKPolisi Kawal Ketat Pergeseran Kotak Suara dari PPK ke KPUD TalaudPolres Tomohon dan Jajaran Kawal UNBKSeluruh Anggota Polri yang Gugur saat Pengamanan Pemilu 2019 Mendapat Kenaikan Pangkat Setingkat Lebih TinggiBKO Samapta dan Polair Dilepas Pulang, Polres Minsel Optimalkan Power on Hand TimsusPerayaan Paskah, Kapolres Minsel: Momen untuk Melupakan Perbedaan Pasca PemiluTinjau Pleno PPK Amurang dan Tumpaan, Kapolres Minsel Ingatkan SOP PengamananKapolres Bitung Pantau Kegiatan Pengamanan di PPK AertembagaKapolres Kepulauan Talaud Hadiri Paskah Bersama Jemaat Germita Eben Haezer MelonguanePolres Minut Intensifkan Patroli Malam HariKapolres Kepulauan Sangihe Hadiri Ibadah Paskah Agung di GPDI Victory TahunaWakapolresta Manado Pimpin Apel Peleton SiagaKapolres Bitung Tinjau Pengamanan Pleno Penghitungan Suara di PPKPimpin Pasukan Brimob, Wakapolres Minsel Bersama Bupati Mitra Pantau Pleno PPKKapolres Minsel Bersama Pabung Kodim 1302 Minahasa Tinjau Pengamanan Pleno PPKPolres Minsel Kerahkan 440 Personel Kawal Pleno Pemilu di 29 PPKKapolresta Manado Dampingi Kapolda Sulut Pastikan Pengamanan Penyimpanan Kotak Suara di PPK MapangetKapolres Minut Pantau Keamanan Proses Rekapitulasi Penghitungan Suara di PPKPolres Minahasa dan Jajaran Amankan Rapat Pleno Tingkat PPKHadiri Ibadah Paskah di Gereja Katolik Bunda Hati Kudus Rumengkor, Ini Penyampaian KapoldaIni Klarifikasi Polisi Terkait Temuan Segel Kotak Suara di Gedung Pameran Pemkot ManadoKapolda Bersama Ketua KPU dan Bawaslu Pantau Proses Rekapitulasi Suara Pemilu Tingkat PPK di ManadoTNI-Polri Siap Menjaga Persatuan dan Kesatuan BangsaJamin Keamanan, Kapolres Minut Cek Kesiapan Pengamanan Rapat Pleno di PPKKapolres Tomohon Cek Pengamanan Kotak Suara di PPKJamin Keamanan Kotak Suara, Kapolres Minut Cek Pengamanan di PPK KemaPantau Pengamanan di PPK, Kapolres Minut: Personel Jangan Berpikiran UnderestimateKapolres Minut Pantau Pengamanan Kotak Suara di PPKPolres Minsel dan Jajaran Kawal Prosesi Jalan Salib Perayaan Jumat AgungKapolres Minsel Bersama Kajari Lakukan Peninjauan di Kantor PPKJelang Pleno, Polri-TNI Perketat Penjagaan PPK di Minsel dan MitraPersonil Polri Dibantu TNI di Talaud Lakukan Pengamanan Kotak Suara di PPKKapolres Kepulauan Talaud Pastikan Kotak Suara di PPK AmanMenkopolhukam Pastikan TNI-Polri Siap Tindak Tegas Pengganggu KamtibmasKapolres Kepulauan Sangihe Pantau Pengamanan di PPKPesan Damai Ketua MUI Sulut Pasca Pencoblosan Pemilu 2019Kapolda Sulut Bersama Keluarga Hadiri Misa Jumat Agung di Gereja Katolik Santu Josep Pelindung Pekerja KleakPolres Tomohon Gelar Personil Amankan Perayaan Paskah 2019Polresta Manado Gelar 501 Personel Kawal Perayaan PaskahPasca Pemungutan Suara, Kapolda Sulut Cek Pengamanan Hasil Pemilu di PPKPolres Minsel Libatkan 73 Personel Amankan Perayaan Jumat AgungPolres Minsel dan Jajaran Intensifkan Patroli Pasca Pemungutan Suara Pemilu 2019Pasca Pemungutan Suara, Kapolres Minsel bersama Pamatwil Tinjau Logistik Pemilu di Kantor PPKPemungutan Suara di Wilayah Hukum Polres Sangihe Kondusif, Pasukan BKO Siap DipulangkanLakalantas Tunggal, Seorang Warga Kalasuge Tabut MD di TKPKapolres Minut Pantau Proses Pergeseran Kotak Suara ke Kantor KecamatanPemungutan Suara di Sulut Aman dan Lancar, Kabid Humas: Jaga Kamtibmas hingga Usai PemiluPemilu di Sulut Berjalan Kondusif, ini Tanggapan Pakar Hukum Toar PalilinganTNI-Polri Jamin Keamanan Pasca PencoblosanKapolresta Manado Pantau Situasi dan Pengamanan TPSKapolres Minut Pantau Pengamanan Sejumlah TPSWakapolres Minsel Pimpin Patroli di Wilayah MitraJaga Keamanan Usai Pencoblosan, Polres Minsel Gelar Patroli Skala BesarPasca Pencoblosan, Kapolres Minsel Imbau Warga Tetap Jaga KeamananPolres Minsel Amankan Penghitungan Suara di Seluruh TPSGunakan Heli, Kapolda Sulut Pantau Pencoblosan Pemilu 2019 di Kota BitungPolres Kepulauan Talaud Amankan Pencoblosan di 310 TPSAntisipasi ‘Serangan Fajar’, Tim Sentra Gakkumdu Talaud Gelar PatroliTim Pamatwil Mabes Polri Pantau Pengamanan TPS di Wilayah MinselPolres Minsel Kawal Pemungutan Suara di 1.075 TPSKapolres Kepulauan Sangihe Hadiri Pemusnahan Surat Suara RusakJelang Pencoblosan, Kabid Propam Polda Sulut Pimpin Patroli Malam HariKapolda Sulut Bersama Pejabat TNI Pantau Kamtibmas Hari Pencoblosan Pemilu 2019Ini Sanksi Hukum Bagi Mereka yang Menggagalkan Pemungutan Suara Pemilu 2019Ini Pemilih yang Diperbolehkan untuk Mencoblos Setelah Pukul 13.00Polsek Jajaran di Polres Tomohon Gelar Patroli Bersama TNIJaga Keamanan Jelang Pemungutan Suara, Polri-TNI Gelar Patroli di MiangasPolres Minsel Gelar Apel Pergeseran Pasukan Pengamanan TPS Pemilu 2019Cipta Kondisi Jelang Pemungutan Suara, Polres Kepulauan Talaud dan Kodim Gelar PatroliMasa Tenang Pemilu 2019, TNI-Polri di Wilayah Hukum Polres Minsel Laksanakan Patroli BersamaLogistik Pemilu Pengganti Surat Suara Rusak Tiba di Naha, Polisi Lakukan PengawalanKolaborasi TNI-Polri di Airmadidi Laksanakan Patroli Bersama Jelang Pemilu 2019Polres Minut Gelar Doa Bersama Pemilu Damai 2019Kapolda Sulut Pimpin Patroli Dialogis di Pusat Kota ManadoNaik Sepeda Motor, Kapolda Sulut Pimpin Patroli Gabungan TNI-PolriPolres Sangihe dan Seluruh Stake Holders Terkait Siap Mengamankan Pemilu 2019 hingga ke TPSWakapolres Sangihe Pimpin Apel Kesiapan Pengamanan TPS di SiauDoa Bersama Mewujudkan Pemilu 2019 Aman dan Damai di Minahasa

RESPECTUS DE MORTUI (PENGHORMATAN KEPADA YANG MATI)

15 Nov 2018 - 13:11

RESPECTUS DE MORTUI (PENGHORMATAN KEPADA YANG MATI)

Memahami Operasi Disaster Victim Identification (DVI)


Oleh: dr. Paula Lihawa, MForSc. (Kaur Keskamtibmas Subbid Dokpol Biddokkes Polda Sulawesi Utara)

‘LEBIH BAIK TIDAK TERIDENTIFIKASI DARIPADA SALAH IDENTIFIKASI’
Bencana menyisakan korban yang tidak terhitung, baik korban luka, korban harta maupun korban mati. Jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di Teluk Karawang Propinsi Jawa Barat baru-baru ini menyebabkan 187 orang penumpang dan awak pesawat menjadi korban dalam kecelakaan yang diklaim merupakan kecelakaan pesawat terburuk selama 20 tahun terakhir ini.

Bencana jatuhnya Lion Air ini membawa nama Disaster Victim Identification (DVI) kembali dikenali oleh masyarakat luas. Nama DVI pernah dikenal oleh masyarakat saat tragedy Bom Bali I dan II, bom Marriot, kecelakaan pesawat Garuda di Jogjakarta, bom Kedutaan Australia dan berbagai bencana lainnya di Indonesia baik bencana alam maupun buatan manusia.

APAKAH DISASTER VICTIM IDENTIFICATION (DVI) ITU?

DVI dibentuk berdasarkan adanya kebutuhan untuk penanganan korban-korban yang meninggal akibat bencana massal. Pada saat terjadi bencana, banyak pihak yang bergerak untuk menyelamatkan dan mengurus para korban yang terluka, namun disisi lain ada korban yang meninggal yang juga butuh ditangani dengan benar. DVI merupakan suatu prosedur untuk mengenali korban bencana yang meninggal dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan sah dimata hukum yang mengacu pada prosedur baku yang diterbitkan oleh Interpol.

MENGAPA PROSEDUR DVI DIPERLUKAN?

DVI diperlukan sebagai metode pengenalan korban dengan tujuan untuk kepentingan hukum yang berhubungan dengan hak waris, asuransi, dan status pernikahan. DVI juga dibutuhkan sebagai sarana penegakkan hak asasi manusia serta menjadi bagian dari suatu penyidikan.

Secara umum, jika seorang meninggal dunia karena sebab alami atau kecelakaan, jenazah yang bersangkutan akan mudah dikenali oleh sanak keluarga sebab masih terlihat serta relatif utuh. Namun pada jenazah-jenazah korban bencana hal sererti itu jarang terjadi. Kondisi jenazah yang sudah rusak, terpotong, terbakar dan hancur membuat prosedur pengenalan secara langsung akan sulit terlaksana. Bahkan keluarga terdekat akan mengalami kesulitan untuk mengenali disebabkan oleh kondisi-kondisi demikian. Jika hal ini terjadi maka dapat mengakibatkan jenazah tertukar dan ada keluarga yang tidak bisa menerima jenazah kerabat mereka karena keraguan akan identitas jenazah tersebut.

METODE IDENTIFIKASI YANG DIGUNAKAN DALAM PROSEDUR DVI

Prosedur DVI mengutamakan metode pengenalan yang ilmiah dengan menekankan pada beberapa metode yaitu primer dan sekunder. DVI mengidentifikasi dengan tiga metode identifikasi primer yang harus ditemukan pada korban-korban bencana. Tiga metode tersebut adalah pengenalan lewat sidik jari, data gigi serta DNA. Disamping tiga data primer, prosedur DVI juga mengidentifikasi lewat data sekunder yaitu data medis serta barang-barang pribadi yang melekat dan terikut pada tubuh korban. Dahulu foto korban semasa hidup merupakan salah satu alat pengenalan sekunder pada korban, namun dengan berkembangnya teknologi dimana banyak orang sudah memperbaiki tampilan foto dirinya membuat foto korban merupakan hal terakhir yang dapat digunakan sebagai metode pengenalan korban.
Sidik jari merupakan alat pengenalan yang utama karena tidak ada dua manusia dibumi ini yang mempunyai pola sidik jari yang sama bahkan jika kembar identik sekalipun. Di Indonesia pola sidik jari kita telah tercatat secara resmi saat kita memperoleh Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta saat ini mengambil Surat Izin Mengemudi (SIM) sehingga memudahkan saat operasi DVI dilakukan untuk mengambil data penduduk disertai dengan data sidik jari kemungkinan korban. Terkadang jika kondisi mayat saat ditemukan sudah berada pada tahap pembusukan lanjut maka sidik jari sukar dipakai sebagai alat identifikasi. Demikian juga jika mayat berada didalam air dalam waktu yang lama. Ada berbagai cara yan dapat dipakai untuk mengembalikan sidik jari kepada kondisi awal namun dengan tingkat kesulitan yang tinggi serta tingkat ketepatan menjadi berkurang.

Selain sidik jari, data utama untuk identifikasi adalah melalui data gigi. Data gigi yang dimaksud adalah data gigi setiap individu yang biasanya tercatat pada dokter gigi langganan atau dokter gigi keluarga. Sama seperti sidik jari, tidak ada dua orang didunia ini yang memiliki data gigi yang sama dan sebangun. Oleh sebab itu data gigi merupakan alat identifikasi yang utama. Kesulitan yang ditemui terutama kepada orang Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya adalah sedikit sekali orang Indonesia yang mempunyai data gigi lengkap hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran orang Indonesia untuk memeriksakan gigi mereka secara berkala. Orang Indonesia kebanyakan berkunjung ke dokter gigi hanya jika ada masalah dengan gigi mereka dan sudah sangat nyeri. Pada beberapa instansi pemerintah seperti TNI/Polri sudah mewajibkan para personilnya untuk membuat catatan gigi dan menyimpannya pada basis data instansi demi kepentingan identifikasi nantinya. Keunggulan metode identifikasi melalui data gigi adalah tingkat ketepatan yang tinggi bahkan jika jenazah yang ditemukan sudah hangus terbakar, gigi korban masih dapat diselamatkan dengan metode tertentu dan dapat dikenali. Gigi juga dapat menjadi sample untuk diambil data DNA.

Metode ketiga dan yang paling akurat adalah DNA. DNA sederhananya adalah asam amino yang menyusun manusia sebagaimana adanya sekarang. DNA dari susunan kimianya merupakan rantai ganda yang menyusun genetika manusia seperti warna rambut, warna kulit, warna mata juga kemungkinan penyakit bawaan. DNA yang ada ditubuh tiap manusia merupakan bawaan separuh dari ayah dan separuh dari ibu. Jika dengan anggapan bahwa masing-masing orang tua kita juga membawa separuh dari DNA orang tua mereka maka DNA yang kita punyai saat ini merupakan sepersekian dari DNA leluhur kita. Untuk kepentingan identifkasi maka dibutuhkan DNA pembanding dari ayah dan dari ibu. Jika salah satu atau kedua orang tua sudah meninggal dunia maka dibutuhkan contoh pembanding dari semua saudara kandung yang dimiliki. Jika korban sudah berkeluarga dan mempunya anak maka sebagai pembanding bisa diambil dari anak dan istrinya. Banyak bagian tubuh manusia yang bisa diambil sebagai contoh pembanding DNA misalnya darah, cairan tubuh (ludah, cairan vagina dan sperma), rambut, gigi dan tulang. Berbagai metode bisa digunakan untuk kepentingan pengambilan contoh pembanding DNA. Di Indonesia digunakan metode yang paling mudah dan tidak melukai serta tidak membuat nyeri yaitu menggunakan hapusan pipi. Sementara contoh DNA pada korban dapa diambil dari bagian tubuh apa saja namun yang paling umum adalah rambut, gigi atau tulang.

Satu kelemahan dari DNA adalah seseorang bisa mempunyai dua gambaran DNA jika orang tersebut pernah menjalani prosedur transplantasi sumsum tulang untuk kepentingan medis. Pada orang tersebut akan tergambar dua profil DNA yang nantinya bisa membuat suatu kebingungan dan keraguan. Jika hal ini ditemui maka metode identifikasi sekunder memainkan peran yang penting. Metode tersebut adalah catatan medis korban. Sekali lagi kekurangan dari kita orang Indonesia adalah sangat jarang memiliki catatan medis yang lengkap sejak kita lahir. Kebanyakan dari kita akan mempunyai catatan medis jika pernah mengalami gangguan kesehatan dan dirawat di Rumah Sakit. Sementara orang Eropa, Amerika dan Australia telah mempunyai sistim dokter keluarga dimana semua yang menyangkut data kesehatan seseorang rapi tersimpan dalam catatan seorang dokter keluarga.

APA YANG TERJADI PADA SUATU OPERASI DVI?

Operasi DVI dimulai sesaat setelah terjadi bencana massal. Pengendali operasi DVI adalah Commander in Chief dalam hal ini adalah Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda setempat. Dengan berkoordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat dalam pencarian dan penanggulangan bencana, Commander in Chief harus segera menentukan langkah yang diperlukan dalam suatu operasi DVI seperti penetapan tempat penampungan jenazah sementara, kamar jenazah untuk keperluan identifkasi, memanggil semua ahli identifikasi serta berkoordinasi dengan regu pencari untuk fase TKP.

Sebuah operasi DVI terdiri dari lima fase yaitu: Fase TKP, Fase Post Mortem, Fase Ante Mortem, Fase Rekonsiliasi dan Fase Debrieving.

A. Fase TKP (Scene Phase)

Fase TKP adalah fase dimana banyak unsur-unsur yang terlibat terutama unsur pencarian korban. Setelah korban yang selamat mendapatkan penanganan dan evakuasi, maka korban meninggal juga harus dipindahkan dari tempat kejadian ke tempat penampungan jenazah sementara untuk menunggu proses identifikasi. Pada fase ini digunakan formulir khusus yang berwarna merah jambu (Pink Form). Formulir ini akan diikutkan kedalam kantong jenazah atau bagian tubuh yang ditemukan hingga proses identifikasi pada fase Post Mortem dimulai. Formulir ini berisi segala sesuatu mengenai jenazah atau potongan tubuh yang ditemukan baik cirri umum maupun cirri khusus beserta barang pribadi yang dipakai atau yang melekat pada jenazah. Pada setiap pelatihan penanggulangan bencana seharusnya unsur-unsur yang terlibat diberi pelatihan juga bagaimana menangani dan mengisi formulir merah muda agar dapat lebih mempermudah proses identifikasi.

B. Fase Post Mortem (Post Mortem/PM Phase)

Fase ini merupakan fase krusial dimana proses identifikasi dilakukan. Jika pada saat pengisian formulir merah muda pada fase TKP terjadi kekeliruan maka kemungkinan besar proses identifikasi akan terganggu. Fase ini dilakukan didalam kamar jenazah atau tempat yang disiapkan sebagai kamar jenazah. Tidak ada proses otopsi dalam fase ini karena penyebab pasti kematian korban adalah bencana yang terjadi. Dalam fase ini yang dilakukan adalah memeriksa semua data yang ditemukan pada jenazah atau potongan tubuh korban dan dicocokkan dengan isi formulir merah muda.

C. Fase Ante Mortem (Ante Mortem/AM Phase)

Pada fase ini biasanya dibuka Posko Pelaporan Orang Hilang dimana keluarga korban dapat melaporkan segala sesuatu yang mereka ketahui baik cirri fisik maupun cirri khusus korban atau terduga korban kepada petugas Posko. Pada fase ini masing-masing laporan akan dicatat dalam formulir khusus berwarna kuning (Yellow Form). Formulir kuning ini harus menjadi bayangan cermin dari formulir merah muda yang digunakan pada fase TKP dan Post Mortem. Pada fase ini juga dilakukan pengambilan sample DNA kepada keluarga terdekat korban jika diperlukan. Pada saat keluarga melaporkan segala yang mereka ketahui tentang korban atau terduga korban sebaiknya membawa barang-barang yang dapat membantu proses identifikasi seperti KTP atau SIM atau Ijazah korban dimana terdapat contoh sidik jari korban, sisir yang sering dipakai korban atau sikat gigi korban untuk mengambil sample DNA yang bisa dikumpulkan. Fase Ante Mortem juga merupakan fase yang membutuhkan banyak sukarelawan baik dalam mengumpulkan dan mencatat laporan yang masuk juga dibutuhkan sukarelawan dalam hal pendampingan psikologis bagi keluarga-keluarga korban bencana. Posko pelaporan orang hilang ini juga sebaiknya ditempatkan jauh dari tempat dimana fase Post Mortem dilaksanakan.

D. Fase Rekonsiliasi (Reconcilliation Phase)

Pada fase inilah kedua formulir dipertemukan dan dibahas. Fase ini dapat berlangsung cepat jika semua data yang ditemukan pada fase Post Mortem dapat langsung cocok dengan data yang dilaporkan pada fase Ante Mortem. Jika hal itu terjadi maka jenazah atau bagian tubuh korban dapat langsung diserahkan kepada kaum keluarga yang menunggu sehingga dapat segera dimakamkan. Pada fase ini juga diserahkan surat keterangan kematian bagi korban sebagai dokumen resmi yang akan dibutuhkan kaum keluarga nantinya. Tidak jarang juga fase ini berlangsung berhari-hari karena banyak ketidakcocokkan antara data yang ditemukan dengan data yang dilaporkan. Jika hal ini terjadi maka tim PM akan kembali ke kamar jenazah untuk kembali memeriksa jenazah atau potongan tubuh yang ada, sementara tim AM akan kembali menghubungi keluarga guna meminta data tambahan yang dibutuhkan. Berkaca pada bencana Lion Air JT610, fase ini belum selesai dilakukan mengingat jumlah potongan tubuh yang ada sedang menjalani proses pemeriksaan DNA. Sebagai perbandingan, proses identifikasi peristiwa World Trade Centre atau 9/11 masih berlangsung hingga kini. Ada jutaan sample dipusat data 9/11 menunggu diperiksa dan dicocokkan.

E. Fase Debrieving (Debrieving Phase)

Fase ini berlangsung saat semua korban selesai diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. Fase ini juga berfungsi sebagai tahap analisa dan evaluasi akan prosedur dan operasi yang telah dilaksanakan, kendala yang dihadapi serta langkah antisipasi untuk operasi selanjutnya. Sesudah fase ini Commander in Chief akan mengambil keputusan untuk menutup operasi DVI yang dilakukan. Dengan menggunakan banyak pertimbangan baik jenis bencana, jumlah dan kondisi korban juga kondisi masyarakat dan adat istiadat setempat, Commander in Chief dapat menutup operasi DVI yang sedang dilakukan walaupun belum semua korban teridentifikasi atau ditemukan. Hal itulah yang terjadi pada operasi Donggala dimana jumlah korban yang begitu banyak dengan daerah cakupan yang begitu luas serta kondisi korban meninggal yang sudah mencapai tahap pembusukan lanjut maka walaupun tidak semua korban dapat diidentifikasi, operasi DVI Donggala dinyatakan ditutup dan semua korban segera dimakamkan pada sebuah pemakaman massal.

Begitu banyak aspek yang harus dilakukan dalam sebuah operasi DVI dengan berbagai kendala dan hambatan. Keterlibatan berbagai unsur sangat penting bagi keberhasilan operasi seperti ini. Koordinasi dan kerja sama selalu dikedepankan dalam pelaksanaan operasi DVI dalam upaya mencapai keberhasilan dalam proses identifikasi korban. Banyak emosi yang terlibat sehingga seringkali suatu operasi DVI merupakan suatu operasi yang harus dijalani dengan segala kesabaran dan ketelitian. Sebab mengembalikan jenazah kepada keluarga yang tidak semestinya merupakan suatu kesalahan yang fatal dan tidak boleh terjadi. ***

KOMENTAR