Sejumlah Sepeda Motor Berknalpot Bising Terjaring Razia Polsek SinonsayangProgram Jumling, Polres Minsel Imbau Jamaah Tak Terpengaruh Berita HoaxDesa Kema II Siap Aktifkan PoskamlingBPK RI Lakukan Wasrik Tiga Satker dan Satwil di Polres BitungPolres Bitung Ikuti Karya Bakti Hari Juang TNI ADBPK RI Lakukan Wasrik Terhadap Jajaran Polres MinselWakapolres Tomohon Raih Pin Perunggu Penggerak Revolusi Mental Tingkat Polda SulutPolres Kepulauan Sangihe Gelar Rakor Bersama Instansi Terkait, Bahas Kesiapan Operasi LilinAntisipasi Kejahatan Jelang Natal dan Tahun Baru, ini yang Dilakukan Polda SulutPolsek Dumoga Barat Tangkap 2 Tersangka Penikaman Kurang dari 1 Jam Usai KejadianAniaya Korban di Sulteng, GL Dibekuk Tim Gabungan Resmob di Kema MinutWillem Ditemukan Tewas di Perkebunan Sinoitan Langowan TimurPolsek Malalayang Ringkus Tiga Pelaku PengeroyokanBhayangkari Gelar Doa Bersama demi Kelancaran Tugas Polri dan Keamanan NKRIKomisi III DPR RI Sambangi Polda Sulut, Bahas Kesiapan Pengamanan Natal dan Tahun BaruNgamuk Bawa Sajam saat Pilkades, YL Diringkus Timsus Polres Kepulauan TalaudKetegaran Bhayangkari di Polairud Polda Sulut ini Disebut Kapolda Menjadi InspirasiKapolda Sulut Resmikan Sejumlah Fasilitas di Mako DitpolairudSailing Pass Semarakkan Syukuran HUT ke-69 PolairudOpen Karate Minahasa Championship Kapolda Sulut Cup 2019 Siap DigelarIni Pesan Kapolres Minut Kepada BhabinkamtibmasPilhut di Minut Berjalan Lancar, Kapolres Apresiasi Seluruh AnggotaPolairud Polda Sulut Gelar Syukuran HUT ke-69Polsek Malalayang Amankan Pelaku Penganiayaan yang Terjadi di Depan Gereja Santa TheresiaAktivitas Masyarakat Jelang Natal Meningkat, Polda Sulut dan Jajaran Perketat PengamananPolisi Bantu Usung Keranda Jenasah Richie Simbala di DumogaJadi Pembina Upacara di Sekolah-Sekolah, ini yang Disampaikan Para Perwira Polres KotamobaguBhabinkamtibmas Polsek Kema Bina Dua Siswa BolosSita Eksekusi Tanah di Rinondoran Likupang Berjalan KondusifDua Remaja Kepergok Ngelem, Polsek Matuari Berikan PembinaanKapolsek Tompaso Ajak Pelajar Hindari Perbuatan NegatifOperasi Patuh Samrat-2019 Berakhir, Polres Tomohon Tindak 948 PelanggarDiduga Korsleting, Satu Rumah di Tumpaan Minsel Ludes TerbakarDiresnarkoba Polda Sulut Laksanakan Supervisi di Polres KotamobaguProgram Midah, Polres Minsel Sampaikan Pesan Kamtibmas di GerejaDiduga Sakit, Jasad Sonny Warga Tangkunei Ditemukan Meninggal Dunia di RumahnyaPolsek Kema Tingkatkan Patroli Cipkon Malam MingguPolsek Kauditan Gelar Patroli Cipkon Pasca PilkadesPersonil Polsek Airmadidi Hadir di Kegiatan Pisah Sambut Pastor Gereja Katolik AirmadidiPasca Pilkades, Polsek Rainis Gelar Patroli CipkonPolres Kepulauan Talaud dan Jajaran Tingkatkan Pengamanan Jelang Perayaan NatalPanitia dan Peserta Seleksi CPNS Polri 2019 di Polda Sulut Sepakat Hindari KKNPolda Sulut dan Jajaran Terima Kunjungan Tim Wasrik BPK RIKapolres Kepulauan Sangihe Hadiri Pembukaan Konfercab IV NU di TahunaTambah Wawasan, Murid TK YKB 12/Tahuna Kunjungi Kantor BPBD SangiheBhayangkari dan YKB Cabang Sangihe Gelar Syukuran Hari Guru NasionalKapolres Kepulauan Sangihe Ajak Bhayangkari Berpola Hidup Sederhana dan Bijak BermedsosPasca Pemilihan Hukum Tua di Minut, TNI-Polri Gelar Patroli BersamaSambangi Nelayan, Polsek Kema Sampaikan Pesan KamtibmasPolsek Amurang Amankan Tersangka Curanmor yang Beraksi di BuyungonPolsek Tenga Tangkap Pelaku Penganiayaan di PakuweruMabuk lalu Aniaya Warga dengan Parang, HT Digiring ke Polsek TouluaanTekan Pekat, Polres Minsel dan Jajaran Gelar KRYD Malam Akhir PekanPolres Bitung Ikut Tanam Pohon Dalam Rangka Hari Juang TNI AD 2019Polisi Kawal Festival Tamporok di Pantai Pulisan LikupangKapolsek Dimembe Bangun Silaturahmi Bersama Jamaah Masjid Al Mujahidin WarukapasPelaku KDRT di Beo Diamankan PolisiKapolres Sangihe Hadiri Ibadah Syukur Jemaat GPDI Victoria TahunaBelasan Pelanggar Lalulintas Terjaring Ops Patuh di TahunaSita Eksekusi Bangunan Toko di Tahuna Berjalan KondusifRibuan Warga Meriahkan Fun Bike dan Olahraga Bersama HUT ke-69 Polairud di MegamasKapolres Minut Bersama Anggota Pantau Pilhut di 7 KecamatanIni Cara Polisi di Amurang Tangani Orang Mabuk dan Buat KeributanHari Menanam Pohon, Kapolres Minsel Bersama Forkopimda Lakukan Penanaman di TengaOknum Pelajar Pelaku Penganiayaan di SMA Aquino Diantar Polisi ke GerejaOperasi Patuh di Tataaran, Polres Minahasa Jaring 49 PelanggarIni yang Dilakukan Pocil Didampingi Bhayangkari dan Polantas di Jalanan KotamobaguPolres Bitung Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 HPolres Kepl Sangihe Terima Hibah Bangunan Mushola dari BRI TahunaSyukuran HUT ke-48 Korpri di Polda Sulut, ini Pesan WakapoldaBacakan Sambutan Presiden RI, Wakapolda Irup HUT ke-48 Korpri di Polda SulutPolsek Malalayang Amankan Pelaku Percobaan Perkosaan dan PengancamanVIDEO: Penerimaan Polri - Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana TA. 2020Bhabinkamtibmas dan Babinsa di Manado Sapa Warga Sambil Sampaikan ImbauanJelang Operasi Lilin 2019, Dirlantas Polda Sulut Cek Kondisi Kendaraan OperasionalKunjungi Kepolisian Davao Filipina, ini Agenda yang Dibahas Polda SulutPolres Minahasa Pererat Silaturahmi dengan PWIKapolsek Kauditan Bersama Koramil Pantau Kesiapan Pelaksanaan PilkadesPolres Minut Laksanakan Monitoring Pelaksanaan PilhutPesan Kapolres saat Pimpin Apel Serpas Pengamanan Pilhut di MinutPolda Sulut Sambangi Kepolisian Filipina di Davao Pro 11Sopir Mabuk, Avanza Tabrak Rumah Warga di Walian TomohonPolisi Tangkap Dua Tersangka Pembunuhan di Akembuala SangiheCek Kinerja Jajaran, Ditresnarkoba Polda Sulut Gelar Supervisi di Polres MinahasaHadiri Rakor, Kapolsek Langowan: Gunakan Dana Desa Sesuai ProsedurPolres Kepulauan Talaud Amankan 700 Liter Cap Tikus di Pelabuhan MelonguaneDitlantas Polda Sulut Jaring 344 Pelanggar Masuki Hari ke-6 Ops Patuh SamratPolisi Gelar Pengamanan Rapat Paripurna DPRD MinselSatuan Polair Polres Minsel Razia Sejumlah Kapal Ikan di Teluk AmurangKapolsek Airmadidi Intensifkan Mapalus Kamtibmas di WilayahnyaPolisi Amankan 3 Pemuda Mabuk Resahkan Warga KemaPNS Polda Sulut Ziarah ke TMP Kairagi Sambut HUT Korpri ke-48Diduga Sakit, Linda Ditemukan Tewas di Perum Rindu Sekar Alam TumintingApes, Terduga Pelaku Pencurian Sepeda Motor ini Jatuh lalu Dikeroyok WargaDiduga Hendak Mencuri Sepeda Motor, IM Diamankan di Polsek Kawasan Pelabuhan ManadoSepekan Operasi Patuh, Polres Tomohon Tindak 451 PelanggarDiduga Sakit, Seorang Pedagang Ditemukan Tewas di Pasar Bersehati ManadoPolda Sulut Masih Buka Lowongan CPNS Polri, Ayo Buruan Daftar!Kabur Dua Tahun Lebih, Pelaku Pembunuhan di Bitung ini Diringkus di SamarindaBhabinkamtibmas Polsek Dimembe Aktif Sambangi Warganya

RESPECTUS DE MORTUI (PENGHORMATAN KEPADA YANG MATI)

15 Nov 2018 - 13:11

RESPECTUS DE MORTUI (PENGHORMATAN KEPADA YANG MATI)

Memahami Operasi Disaster Victim Identification (DVI)


Oleh: dr. Paula Lihawa, MForSc. (Kaur Keskamtibmas Subbid Dokpol Biddokkes Polda Sulawesi Utara)

‘LEBIH BAIK TIDAK TERIDENTIFIKASI DARIPADA SALAH IDENTIFIKASI’
Bencana menyisakan korban yang tidak terhitung, baik korban luka, korban harta maupun korban mati. Jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di Teluk Karawang Propinsi Jawa Barat baru-baru ini menyebabkan 187 orang penumpang dan awak pesawat menjadi korban dalam kecelakaan yang diklaim merupakan kecelakaan pesawat terburuk selama 20 tahun terakhir ini.

Bencana jatuhnya Lion Air ini membawa nama Disaster Victim Identification (DVI) kembali dikenali oleh masyarakat luas. Nama DVI pernah dikenal oleh masyarakat saat tragedy Bom Bali I dan II, bom Marriot, kecelakaan pesawat Garuda di Jogjakarta, bom Kedutaan Australia dan berbagai bencana lainnya di Indonesia baik bencana alam maupun buatan manusia.

APAKAH DISASTER VICTIM IDENTIFICATION (DVI) ITU?

DVI dibentuk berdasarkan adanya kebutuhan untuk penanganan korban-korban yang meninggal akibat bencana massal. Pada saat terjadi bencana, banyak pihak yang bergerak untuk menyelamatkan dan mengurus para korban yang terluka, namun disisi lain ada korban yang meninggal yang juga butuh ditangani dengan benar. DVI merupakan suatu prosedur untuk mengenali korban bencana yang meninggal dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan sah dimata hukum yang mengacu pada prosedur baku yang diterbitkan oleh Interpol.

MENGAPA PROSEDUR DVI DIPERLUKAN?

DVI diperlukan sebagai metode pengenalan korban dengan tujuan untuk kepentingan hukum yang berhubungan dengan hak waris, asuransi, dan status pernikahan. DVI juga dibutuhkan sebagai sarana penegakkan hak asasi manusia serta menjadi bagian dari suatu penyidikan.

Secara umum, jika seorang meninggal dunia karena sebab alami atau kecelakaan, jenazah yang bersangkutan akan mudah dikenali oleh sanak keluarga sebab masih terlihat serta relatif utuh. Namun pada jenazah-jenazah korban bencana hal sererti itu jarang terjadi. Kondisi jenazah yang sudah rusak, terpotong, terbakar dan hancur membuat prosedur pengenalan secara langsung akan sulit terlaksana. Bahkan keluarga terdekat akan mengalami kesulitan untuk mengenali disebabkan oleh kondisi-kondisi demikian. Jika hal ini terjadi maka dapat mengakibatkan jenazah tertukar dan ada keluarga yang tidak bisa menerima jenazah kerabat mereka karena keraguan akan identitas jenazah tersebut.

METODE IDENTIFIKASI YANG DIGUNAKAN DALAM PROSEDUR DVI

Prosedur DVI mengutamakan metode pengenalan yang ilmiah dengan menekankan pada beberapa metode yaitu primer dan sekunder. DVI mengidentifikasi dengan tiga metode identifikasi primer yang harus ditemukan pada korban-korban bencana. Tiga metode tersebut adalah pengenalan lewat sidik jari, data gigi serta DNA. Disamping tiga data primer, prosedur DVI juga mengidentifikasi lewat data sekunder yaitu data medis serta barang-barang pribadi yang melekat dan terikut pada tubuh korban. Dahulu foto korban semasa hidup merupakan salah satu alat pengenalan sekunder pada korban, namun dengan berkembangnya teknologi dimana banyak orang sudah memperbaiki tampilan foto dirinya membuat foto korban merupakan hal terakhir yang dapat digunakan sebagai metode pengenalan korban.
Sidik jari merupakan alat pengenalan yang utama karena tidak ada dua manusia dibumi ini yang mempunyai pola sidik jari yang sama bahkan jika kembar identik sekalipun. Di Indonesia pola sidik jari kita telah tercatat secara resmi saat kita memperoleh Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta saat ini mengambil Surat Izin Mengemudi (SIM) sehingga memudahkan saat operasi DVI dilakukan untuk mengambil data penduduk disertai dengan data sidik jari kemungkinan korban. Terkadang jika kondisi mayat saat ditemukan sudah berada pada tahap pembusukan lanjut maka sidik jari sukar dipakai sebagai alat identifikasi. Demikian juga jika mayat berada didalam air dalam waktu yang lama. Ada berbagai cara yan dapat dipakai untuk mengembalikan sidik jari kepada kondisi awal namun dengan tingkat kesulitan yang tinggi serta tingkat ketepatan menjadi berkurang.

Selain sidik jari, data utama untuk identifikasi adalah melalui data gigi. Data gigi yang dimaksud adalah data gigi setiap individu yang biasanya tercatat pada dokter gigi langganan atau dokter gigi keluarga. Sama seperti sidik jari, tidak ada dua orang didunia ini yang memiliki data gigi yang sama dan sebangun. Oleh sebab itu data gigi merupakan alat identifikasi yang utama. Kesulitan yang ditemui terutama kepada orang Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya adalah sedikit sekali orang Indonesia yang mempunyai data gigi lengkap hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran orang Indonesia untuk memeriksakan gigi mereka secara berkala. Orang Indonesia kebanyakan berkunjung ke dokter gigi hanya jika ada masalah dengan gigi mereka dan sudah sangat nyeri. Pada beberapa instansi pemerintah seperti TNI/Polri sudah mewajibkan para personilnya untuk membuat catatan gigi dan menyimpannya pada basis data instansi demi kepentingan identifikasi nantinya. Keunggulan metode identifikasi melalui data gigi adalah tingkat ketepatan yang tinggi bahkan jika jenazah yang ditemukan sudah hangus terbakar, gigi korban masih dapat diselamatkan dengan metode tertentu dan dapat dikenali. Gigi juga dapat menjadi sample untuk diambil data DNA.

Metode ketiga dan yang paling akurat adalah DNA. DNA sederhananya adalah asam amino yang menyusun manusia sebagaimana adanya sekarang. DNA dari susunan kimianya merupakan rantai ganda yang menyusun genetika manusia seperti warna rambut, warna kulit, warna mata juga kemungkinan penyakit bawaan. DNA yang ada ditubuh tiap manusia merupakan bawaan separuh dari ayah dan separuh dari ibu. Jika dengan anggapan bahwa masing-masing orang tua kita juga membawa separuh dari DNA orang tua mereka maka DNA yang kita punyai saat ini merupakan sepersekian dari DNA leluhur kita. Untuk kepentingan identifkasi maka dibutuhkan DNA pembanding dari ayah dan dari ibu. Jika salah satu atau kedua orang tua sudah meninggal dunia maka dibutuhkan contoh pembanding dari semua saudara kandung yang dimiliki. Jika korban sudah berkeluarga dan mempunya anak maka sebagai pembanding bisa diambil dari anak dan istrinya. Banyak bagian tubuh manusia yang bisa diambil sebagai contoh pembanding DNA misalnya darah, cairan tubuh (ludah, cairan vagina dan sperma), rambut, gigi dan tulang. Berbagai metode bisa digunakan untuk kepentingan pengambilan contoh pembanding DNA. Di Indonesia digunakan metode yang paling mudah dan tidak melukai serta tidak membuat nyeri yaitu menggunakan hapusan pipi. Sementara contoh DNA pada korban dapa diambil dari bagian tubuh apa saja namun yang paling umum adalah rambut, gigi atau tulang.

Satu kelemahan dari DNA adalah seseorang bisa mempunyai dua gambaran DNA jika orang tersebut pernah menjalani prosedur transplantasi sumsum tulang untuk kepentingan medis. Pada orang tersebut akan tergambar dua profil DNA yang nantinya bisa membuat suatu kebingungan dan keraguan. Jika hal ini ditemui maka metode identifikasi sekunder memainkan peran yang penting. Metode tersebut adalah catatan medis korban. Sekali lagi kekurangan dari kita orang Indonesia adalah sangat jarang memiliki catatan medis yang lengkap sejak kita lahir. Kebanyakan dari kita akan mempunyai catatan medis jika pernah mengalami gangguan kesehatan dan dirawat di Rumah Sakit. Sementara orang Eropa, Amerika dan Australia telah mempunyai sistim dokter keluarga dimana semua yang menyangkut data kesehatan seseorang rapi tersimpan dalam catatan seorang dokter keluarga.

APA YANG TERJADI PADA SUATU OPERASI DVI?

Operasi DVI dimulai sesaat setelah terjadi bencana massal. Pengendali operasi DVI adalah Commander in Chief dalam hal ini adalah Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda setempat. Dengan berkoordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat dalam pencarian dan penanggulangan bencana, Commander in Chief harus segera menentukan langkah yang diperlukan dalam suatu operasi DVI seperti penetapan tempat penampungan jenazah sementara, kamar jenazah untuk keperluan identifkasi, memanggil semua ahli identifikasi serta berkoordinasi dengan regu pencari untuk fase TKP.

Sebuah operasi DVI terdiri dari lima fase yaitu: Fase TKP, Fase Post Mortem, Fase Ante Mortem, Fase Rekonsiliasi dan Fase Debrieving.

A. Fase TKP (Scene Phase)

Fase TKP adalah fase dimana banyak unsur-unsur yang terlibat terutama unsur pencarian korban. Setelah korban yang selamat mendapatkan penanganan dan evakuasi, maka korban meninggal juga harus dipindahkan dari tempat kejadian ke tempat penampungan jenazah sementara untuk menunggu proses identifikasi. Pada fase ini digunakan formulir khusus yang berwarna merah jambu (Pink Form). Formulir ini akan diikutkan kedalam kantong jenazah atau bagian tubuh yang ditemukan hingga proses identifikasi pada fase Post Mortem dimulai. Formulir ini berisi segala sesuatu mengenai jenazah atau potongan tubuh yang ditemukan baik cirri umum maupun cirri khusus beserta barang pribadi yang dipakai atau yang melekat pada jenazah. Pada setiap pelatihan penanggulangan bencana seharusnya unsur-unsur yang terlibat diberi pelatihan juga bagaimana menangani dan mengisi formulir merah muda agar dapat lebih mempermudah proses identifikasi.

B. Fase Post Mortem (Post Mortem/PM Phase)

Fase ini merupakan fase krusial dimana proses identifikasi dilakukan. Jika pada saat pengisian formulir merah muda pada fase TKP terjadi kekeliruan maka kemungkinan besar proses identifikasi akan terganggu. Fase ini dilakukan didalam kamar jenazah atau tempat yang disiapkan sebagai kamar jenazah. Tidak ada proses otopsi dalam fase ini karena penyebab pasti kematian korban adalah bencana yang terjadi. Dalam fase ini yang dilakukan adalah memeriksa semua data yang ditemukan pada jenazah atau potongan tubuh korban dan dicocokkan dengan isi formulir merah muda.

C. Fase Ante Mortem (Ante Mortem/AM Phase)

Pada fase ini biasanya dibuka Posko Pelaporan Orang Hilang dimana keluarga korban dapat melaporkan segala sesuatu yang mereka ketahui baik cirri fisik maupun cirri khusus korban atau terduga korban kepada petugas Posko. Pada fase ini masing-masing laporan akan dicatat dalam formulir khusus berwarna kuning (Yellow Form). Formulir kuning ini harus menjadi bayangan cermin dari formulir merah muda yang digunakan pada fase TKP dan Post Mortem. Pada fase ini juga dilakukan pengambilan sample DNA kepada keluarga terdekat korban jika diperlukan. Pada saat keluarga melaporkan segala yang mereka ketahui tentang korban atau terduga korban sebaiknya membawa barang-barang yang dapat membantu proses identifikasi seperti KTP atau SIM atau Ijazah korban dimana terdapat contoh sidik jari korban, sisir yang sering dipakai korban atau sikat gigi korban untuk mengambil sample DNA yang bisa dikumpulkan. Fase Ante Mortem juga merupakan fase yang membutuhkan banyak sukarelawan baik dalam mengumpulkan dan mencatat laporan yang masuk juga dibutuhkan sukarelawan dalam hal pendampingan psikologis bagi keluarga-keluarga korban bencana. Posko pelaporan orang hilang ini juga sebaiknya ditempatkan jauh dari tempat dimana fase Post Mortem dilaksanakan.

D. Fase Rekonsiliasi (Reconcilliation Phase)

Pada fase inilah kedua formulir dipertemukan dan dibahas. Fase ini dapat berlangsung cepat jika semua data yang ditemukan pada fase Post Mortem dapat langsung cocok dengan data yang dilaporkan pada fase Ante Mortem. Jika hal itu terjadi maka jenazah atau bagian tubuh korban dapat langsung diserahkan kepada kaum keluarga yang menunggu sehingga dapat segera dimakamkan. Pada fase ini juga diserahkan surat keterangan kematian bagi korban sebagai dokumen resmi yang akan dibutuhkan kaum keluarga nantinya. Tidak jarang juga fase ini berlangsung berhari-hari karena banyak ketidakcocokkan antara data yang ditemukan dengan data yang dilaporkan. Jika hal ini terjadi maka tim PM akan kembali ke kamar jenazah untuk kembali memeriksa jenazah atau potongan tubuh yang ada, sementara tim AM akan kembali menghubungi keluarga guna meminta data tambahan yang dibutuhkan. Berkaca pada bencana Lion Air JT610, fase ini belum selesai dilakukan mengingat jumlah potongan tubuh yang ada sedang menjalani proses pemeriksaan DNA. Sebagai perbandingan, proses identifikasi peristiwa World Trade Centre atau 9/11 masih berlangsung hingga kini. Ada jutaan sample dipusat data 9/11 menunggu diperiksa dan dicocokkan.

E. Fase Debrieving (Debrieving Phase)

Fase ini berlangsung saat semua korban selesai diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. Fase ini juga berfungsi sebagai tahap analisa dan evaluasi akan prosedur dan operasi yang telah dilaksanakan, kendala yang dihadapi serta langkah antisipasi untuk operasi selanjutnya. Sesudah fase ini Commander in Chief akan mengambil keputusan untuk menutup operasi DVI yang dilakukan. Dengan menggunakan banyak pertimbangan baik jenis bencana, jumlah dan kondisi korban juga kondisi masyarakat dan adat istiadat setempat, Commander in Chief dapat menutup operasi DVI yang sedang dilakukan walaupun belum semua korban teridentifikasi atau ditemukan. Hal itulah yang terjadi pada operasi Donggala dimana jumlah korban yang begitu banyak dengan daerah cakupan yang begitu luas serta kondisi korban meninggal yang sudah mencapai tahap pembusukan lanjut maka walaupun tidak semua korban dapat diidentifikasi, operasi DVI Donggala dinyatakan ditutup dan semua korban segera dimakamkan pada sebuah pemakaman massal.

Begitu banyak aspek yang harus dilakukan dalam sebuah operasi DVI dengan berbagai kendala dan hambatan. Keterlibatan berbagai unsur sangat penting bagi keberhasilan operasi seperti ini. Koordinasi dan kerja sama selalu dikedepankan dalam pelaksanaan operasi DVI dalam upaya mencapai keberhasilan dalam proses identifikasi korban. Banyak emosi yang terlibat sehingga seringkali suatu operasi DVI merupakan suatu operasi yang harus dijalani dengan segala kesabaran dan ketelitian. Sebab mengembalikan jenazah kepada keluarga yang tidak semestinya merupakan suatu kesalahan yang fatal dan tidak boleh terjadi. ***

Bagikan :

KOMENTAR